Kasih adalah……… pengertian sepenuhnya mengenai apa yang kau rasakan, bahwa kaumerupakan bagian dari orang lain. Menerima orang lain sebagaimana adanya mereka.Kasih adalah sumber persatuan.Kasih adalah……… bergembira pada saat orang lain berbahagia. Bersedih untuk merekayang bersedih. Selalu berdoa untuk mereka yang berduka, dan ikut tersenyum bersamamereka yang bergembira. Kasih adalah sumber kekuatan.“Dimanakah kasihmu maka disitulah hatimu”

Abraham menyayangi Ismael (17:18), anak sulungnya. Namun, janji Allah yang digenapi dalam aa.1-7 dengan jelas menempatkan Ishak sebagai penerus perjanjian. Di sini Abraham langsung mengalami ketegangan antara rencana Allah dengan keinginan sendiri. Allah memakai kekurangan isterinya untuk menempatkannya kembali di jalan yang tepat.

Cinta Abraham akan Ismael tidak mengherankan, karena Ismael adalah anak sulungnya. Dari percakapannya dengan Allah dalam p.17, ada kesan bahwa sebenarnya Abraham sudah puas dengan lahirnya Ismael. Saralah yang begitu mendambakan seorang anak sendiri. Setelah Ishak lahir, semestinya Abraham bertindak untuk mengokohkan warisannya kepada Ishak. (Pembawa cerita seperti meneguhkan tempat Ishak dalam pemikiran pembaca dengan tidak menyebutkan nama Ismael sama sekali dalam cerita ini!) Tetapi seperti biasa dalam kitab Kejadian, Allah yang harus bekerja melalui kekurangan umat-Nya untuk menggenapi rencananya. Dia memakai Sara dalam hal ini. Sara melihat Ismael bermain dengan Ishak, tetapi kata itu dapat juga diterjemahkan mempermainkan. Bisa saja Ismael bermain baik-baik saja, tetapi Sara menafsirnya sebagai permainan, mengingat kesusahan masa lampau dengan Hagar atau membayangkan persaingan pada masa depan. Bagaimanapun juga, dalam sikap itu dia melihat sesuatu yang belum diakui oleh Abraham, yaitu bahwa pewarisan kepada Ishak harus dikokohkan. Abraham menyayangi Ismael sehingga usulan itu menyebalkannya, tetapi Allah justru mendukung keputusan Sara. Belum tentu Allah mendukung sikapnya, tetapi Dia sanggup bekerja melalui kekurangan manusia untuk menggenapi rencana-Nya.

Tentu, perasaan Abraham bukannya tanpa alasan, dan meskipun Allah memilih Ishak, Dia mengulangi janji bahwa Ismael juga akan menjadi bangsa (a.13), dan meneguhkan janji itu dengan menyertai Hagar (a.19), seperti dalam p.16. Janji itu sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada Hagar (16:10) dan Abraham (17:20), dan akhirnya diulangi juga kepada Hagar (a.18). Abraham harus justru melepaskan Ismael supaya Ismael dapat mengalami berkat Allah itu. Kemudian, adanya Ismael dan kemudian Esau membuat Abraham menjadi bapak dari beberapa bangsa (17:6), yang menjadi petunjuk akan maksud Allah untuk memberkati semua bangsa.

Bahwa Abraham menerima pelajaran supaya jangan rasa sayang menghambat rencana Allah menjadi jelas dalam p.22, di mana Abraham taat ketika disuruh mempersembahkan Ishak. Bagi kita, saya rasa bahwa perasaan tidak tega menjadi penghambat ketika, misalnya, pimpinan tidak tega menindaki penjahat, ketika orang tua tidak tega melepaskan anaknya melayani Tuhan di tempat yang rawan, ketika pendeta tidak tega menyampaikan tegoran dari Allah. Allah sendiri tega. Dia tidak menyayangkan anak-Nya sendiri demi keselamatan dunia. Semoga dengan melihat peristiwa ini kita dikuatkan untuk memahami rencana Allah yang berpuncak pada Kristus itu, sehingga kita mampu mempertahankan pendirian yang tegas pada saatnya. Seperti yang didoakan Paulus, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). “Kasih dalam pengertian” yang dipelajari Abraham di sini.

 

About these ads